KUFUR NIKMAT MENDATANG KAN AZAB DI DUNIA DAN AKHIRAT
Oleh: H.M.Zainul Fahmi, S.Pd.I
Bersyukur merupakan kewajiban bagi kaum beriman. Begitu banyak nikmat Allah yang kita terima baik yang kita minta maupun yang tdak kita minta, Mari renungkan sejenak nikmat Allah yang selama ini kita terima. Tidak usah seluruhnya. Cukup nikmat buang angin saja. Ada kisah menarik, Al kisah ada seorang tua yang cukup kaya, suatu saat menderita sakit perut karena tidak bisa buang angin, sudah 2 hari, akhir nya di bawa kerumah sakit, setelah di periksa pada hari ke 3 dokter memutuskan harus oprasi, ada wawan cara antara kakek yang sakit itu dengan Dokter
Kakek : Gimana Dok apa yang harus saya lakukan.
Dokter : o ea kek, saluran angin di dalam tubuh kakek tersumbat, kakek harus oprasi agar bisa
buang angina
Kakek : oo Begitu ea dok..trus dimana saya oprasi
Dokter : Di Surabaya Kek,
Kakek : Siap Dok, Kira kitra Berapa Biayanya
Dokter : Kira kira Siapkan Uang 120 juta kek
Kakek : O Ea Dok, Makasih. Sejak saat itu kakek ini nagis nangis terus sehingga keluarga pada bingung kenapa nangis trus kek..?
Cucu : Kenapa Nangis trus kek sabar-sabar, kan tinggal oprasi, apa yang kakek tangisi, uang biayayang begitu banyak ea kek
Kakek : Bukan Cucuku
Cucu : Lalu apa kek Takut ea
Dokter : Bukan!!
Cucu : Lalu apa yang kakek tangisi
Kakek : Yang kakek tangisi bukan besarnya biaya oprasi yang begitu mahal, uang kakek punya, bukan pula kakek takut di oprasi, buka...bukan....tetapi yang kakek tangisi ternyata begitu mahal nikmat allah, untuk bisa Buang angin yang 3 hari ini, kakek harus bayar 120 juta, berarti satu hari harus bayar 40 juta, selama ini kakek tdak pernah mikir sejauh itu, kakek hanya bung angin doang, kadang kadang kakek buang angin sembarangan gx pernah bayangkan nikmat bisa buang angin itu mahal, kalau sehari semalam kekek buang angin 10 kali, sedangkan sehari harus bayar 40 Juta, kalau seusia kakek 70 tahun kakek harus bayar setiap hari 40 juta, sama dengan berapa semuanya cucuku.
Cucu : Ea ya masya allah Tuu kek.....ayoo kita sukuri semuanya.
Begitulah seseorang harus menghabiskan uang jutaan rupiah bahkan ratusan juta untuk biaya operasi hanya gara-gara tiga hari tidak bisa buang angin. itu baru soal buang angin. Padahal sepanjang hidup ini, jutaan aktivitas lain harus kita tunaikan. Semua itu ternyata tidak dipungut harga alias gratis. Sebab itu, Allah SWT hanya memberikan kita dua pilihan. Jika tidak mau bersyukur, bberarti kita kufur. Tidak ada pilihan ketiga.
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
“Sungguh Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur” (QS.Al-Insan : 3 ).
Dalam kisah hidup Rasulullah juga disebutkan, kedua telapak kaki Rasulullah bengkak bengkak akibat terlalu lama melakukan shalat malam, Aisyah bertanya, “Kenapa engkau melakukan yang demikian, wahai Rasulullah, padahal Allah SWT sudah mengampuni segala dosamu yang telah lampau dan akan datang?” Beliau menjawab, “Tidak pantaskah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur”. (HR.Bukhari dan Muslim).
Hadis ini cukup populer. Rasulullah SAW menegaskan tentang pentingnya bersyukur. Betapa bodohnya kita apabila lebih memilih kufur ketimbang bersyukur. Pasalnya, Allah SWT menjanjikan bertambahnya nikmat bagi mereka yang bersyukur dan menimpakan laknat bagi mereka enggan bersyukur. Simak beberapa cuplikan kisah berikut.
Kaum Nabi Nuh (3993-3043 SM) disapu banjir super dahsyat.
فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ (١١)وَفَجَّرْنَا الأرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ (١٢)وَحَمَلْنَاهُ عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ (١٣)
“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan menurunkan air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh keatas bahtera yang terbuat dari papan dan paku” (QS.Al-Qamar : 11-13).
Sejarawan memang berbeda pendapat, apakah bencana besar itu melanda seluruh dunia atau hanya terjadi pada wilayah tempat Nabi Nuh diutus. Yang jelas, semua sepakat bahwa banjir mengerikan itu datang akibat kaum Nabi Nuh selalu ingkar kepada Allah. Betapa tidak, lebih kurang 950 tahun Nabi Nuh berdakwah, tetapi pengikutnya hanya tujuh puluh orang dan delapan anggota keluarganya.
Kekufuran dan pembangkangan serupa juga dilakukan kaum Ad. Kaum Nabi Hud (2450-2320 SM) ini terkenal memiliki jasmani yang kuat. Berkat karunia Allah, kaum Ad hidup berselimut kemakmuran, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Peradaban mereka juga sangat maju. Tetapi mereka kufur dan angkuh, selalu menolak kebenaran, yang resikonya harus mereka bayar dengan sangat mahal.
Allah SWT meniupkan badai topan diiringi gemuruh suara yang menggelegar. Hanya dalam hitungan hari, riwayat mereka tamat dengan sangat menyedihkan.
سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ (٧)
“Allah menimpakan angin kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari secara terus menerus, maka kamu lihat kaum Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah lapuk” (QS.Al-haqqah : 7).
Tidak kalah mengerikan lagi adalah azab yang diterima kaum Tsamud. Kaum yang tinggal di dataran Al-Hijir yang terletak diantara Hijaz dan Syam ini hidup dengan segala kemewahan dan kemakmuran sebagai warisan dari Kaum Ad. Kaum Tsamud juga dikenal sebagai arsitektur dan entrepreneur ulung. Awal Juli 2008 lalu, UNESCO mengesahkan Madain Saleh, kota peninggalan mereka di 440 km arah utara Madinah itu, sebagai salah satu situs warisan dunia (World Heritage Site).
Sungguh sayang, mereka ingkar dan menentang dakwah Nabi Saleh (2150-2080 SM). Mereka bahkan berani membunuh unta betina yang merupakan mukjizat Nabi dan Rasul kelima itu. Hasilnya, mereka dihantam guntur dan gempa hebat.
وَأَخَذَ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ (٦٧)كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا أَلا إِنَّ ثَمُودَ كَفَرُوا رَبَّهُمْ أَلا بُعْدًا لِثَمُودَ (٦٨)
“Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumah mereka, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sungguh kaum Tsamud itu mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud” (QS.Hud : 67-68).
Tidak kalah tenar tentu kisah Fir’aun. Fir’aun adalah gelar untuk raja-raja Mesir purbakala. Menurut Alquran, terdapat dua gelar bagi raja Mesir kala itu : Fir’aun dan Malik. Fir’aun adalah gelar untuk raja Mesir zaman Nabi Musa (1527-1407 SM), sementara Malik adalah gelar raja Mesir zaman Nabi Yusuf (1745-1635 SM). Penelitian sejarah membuktikan, Fir’aun yang sangat memusuhi Nabi Musa adalah Minephtah (1232-1224 SM), putra Ramses II. Adapun Ramses II yang memerintah selama 68 tahun pada 1304-1237 SM itu adalah raja yang baik.
Fir’aun Minephtah dianugerahi kekuatan dan kekuasaan luar biasa. Tidak hanya kaya, dia bahkan tidak pernah sakit seumur hidup. Tetapi, jangankan bersyukur, Fir’aun Minephtah malah sangat sombong dan arogan, bahkan mengaku sebagai Tuhan. Tragis, Fir’aun Minephtah dan kroni-kroninya akhirnya dibenamkan Allah di dasar Laut Merah. Setelah ribuan tahun terkubur di laut, muminya ditemukan pada 1898 M oleh Loret di Thebes, di daerah Wadi Al-Muluk (lembah raja-raja). Kini mumi Fir’aun Minephtah diawetkan di museum Mesir.
Jika mengacu isyarat Al-Quran, Allah memang sengaja menyelamatkan jasad Fir’aun Minephtah agar dapat menjadi pelajaran bagi manusia.
فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ (٩٢)
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sungguh kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami” (QS.Yunus : 92).
Tidak kalah dahsyatnya azab Allah SWT juga ditimpakan terhadap Kaum Sodom, yakni kaum Nabi Luth (1950-1870 SM).Hampir keseluruhan kaum ini mengamalkan gaya hidup songsang, yaitu melakukan hubungan kelamin sesama sejenis,lelaki dengan lelaki.Perbuatan ini merupakan sesuatu penyelewengan fitrah yang amat buruk. Nabi Luth telah menyeru mereka untuk menghentikan perbuatan tersebut disamping menyampaikan seruan-seruan Allah, tetapi mereka mengabaikannya dan malah mereka mengingkari kenabiannya.
Atas kekufurannya itu Allah SWT mengutus seorang malaikat mencabut negeri itu dengan ujung sayapnya dan mengangkat ke atas langit, lalu dibalikkan negeri itu; bagian atas menjadi bawah dan bagian bawah menjadi atas, kemudian mereka dihujani dengan batu yang panas secara bertubi-tubi.
فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ (٨٢)مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ (٨٣)
“Maka ketika datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,–Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zalim.” (QS. Hud: 82-83)
Allah SWT menyelamatkan Nabi Luth dan keluarganya selain istrinya dengan rahmat Allah SWT, karena mereka menjaga pesan itu, bersyukur atas nikmat Allah dan beribadah kepada-Nya.
Masih banyak kisah-kisah kebinasaan kaum kufur nikmat dan penentang kebenaran yang dituturkan Allah SWT dalam Alquran. Cukuplah beberapa penggalan kisah di atas sebagai bahan renungan. Sebagai kaum beriman, sepatutnya kita terus memanjatkan doa yang diajarkan Rasulullah SAW, sebagaimana dikutip dalam riwayat Abu Dawud, “Wahai Tuhanku, bantulah aku untuk dapat senantiasa mengingatmu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu”.
Syukur yang tepat, bukan hanya pandai mengucapkan alhamdulillah. Sudah semestinya, syukur itu diwujudkan dalam amalan.
Coba perhatikan ibarat syukur yang diungkapkan oleh Ibnul Qayyim,
الشكر يكون : بالقلب : خضوعاً واستكانةً ، وباللسان : ثناءً واعترافاً
، وبالجوارح : طاعةً وانقياداً .
” مدارج السالكين ” ( 2 / 246 )
“Syukur itu dengan hati, dengan tunduk dan merasa tenang. Syukur itu dengan lisan, dengan memuji dan mengakui. Syukur itu dengan anggota badan, yaitu dengan taat dan patuh pada Allah.” (Madarij As-Salikin, 2: 246)
Seorang yang dikenal zuhud di masa silam, yaitu Abu Hazim menyatakan tentang bersyukur dengan anggota badan adalah,
أن تكف عن المعاصي ، وتستعمل في الطاعات
“Engkau tahan anggota badanmu dari maksiat dan engkau gunakan dalam ketaatan pada Allah.”
Abu Hazim juga berkata,
وأما مَن شكر بلسانه ولم يشكر بجميع أعضائه : فمثَلُه كمثل رجل له كساء فأخذ بطرفه ، فلم يلبسه ، فلم ينفعه ذلك من البرد ، والحر ، والثلج ، والمطر ” .
“Siapa saja yang bersyukur dengan lisannya, namun tidak bersyukur dengan anggota badan lainnya, itu seperti seseorang yang mengenakan pakaian. Ia ambil ujung pakaian saja, tidak ia kenakan seluruhnya. Maka pakaian tersebut tidaklah manfaat untuknya untuk melindungi dirinya dari dingin, panas, salju dan hujan.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 84)
Jadi perlu di ingat syukur bisa di lakukan dengan 4 cara yaitu :
1. Dengan Lidah yaitu mengucap kalimat Alhamdulillah atau kalimat lainnya,
2. Dengan Jinan ( Hati) yaitu mengingat sang pemberi nikmat yaitu Allah swt,
3. Dengan Arkan ( Anggota Badab) yaitu melakukan perbuatan ibadah yang diprintahkan,
4. Harus menghargai orang lain (yang telah menyampaikan nikmat allah kepada kita) hal yang ke 4 ini yang sering di lalikan oleh manusia, padahal Rasulullah menegaskan.
Dalam hadist Riwayat Imam Muslim Rasulullah bersanda
من لم يشكر الناس لم يشكر الله( مسلم)
“Barang siapa yang tidak berterimakasih kepada manusia makan tidak di anggap syukur kepada Allah”. ( HR. Muslim)
Dalam Riwayat Abu Daud
لا يشكر الله من لا يشكر الناس (أبو داود)
“Tiada sekali kali di anggap syukur kepada Allah swt, orang yang tidak bisa berterimakasih kepada Manusia”. ( HR. Abu Daud)
Dalam Riwayat Imam Ahmad
إن أشكر الناس لله عزوجل أشكرهم الله ( أحمد)
“ Jika kepada manusia mereka berterimakasih karena Allah azawajalla maka kepada allah mereka di anggap bersyukur.
Demikian yang bisa kami sampaikan semoga ada manfaat nya, dan semoga kita semua di jadikan oleh Allah sebgai manusia yang bisa bersyukur terhadap semua nikmat Allah, dan semoga kita selalu bisa menghargai jasa orang lain dan bisa mengucapkan terimakasih karena allah kepada mereka, wassalam.